Monday, January 9, 2017

Two Faiths One Banner



 
Pengarang: Ian Almond
Penerbit: Harvard University Press
Tahun : 2009
Pembedah : Abdul Nur Adnan.
Bedah Buku: Di IMAAM Center, tanggal 31 Desember 2016
 

D
i zaman kita sekarang ini, persepsi yang keliru mengenai perbedaan sekuler antara Islam dan Kristen adalah, Kristen itu identik dengan Eropa, yang maju, kaya, warganya terdidik dan yang mempunyai nilai-nilai kehidupan yang luhur; sedang Islam itu segala sesuatu yang berada di luar Eropa, terutama di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Timur Tengah, yang mewakili keterbelakangan, dan nilai-nilai hidup yang rendah.

   Sudah tentu itu persepsi yang keliru seperti ditunjukkan dalam buku Ian Almond, TWO FAITHS ONE BANNER (Dua Kepercayaan, Satu Bendera) terbitan Harvard University Press tahun 2009 ini. Penulis buku ini menjadi dosen sastra selama 6 tahun di Turki. Elemen Islam (juga Yahudi) selalu hadir dalam sejarah Eropa sejak awal, kata pengarang. Bahkan secara etimology, kata “Eropa” dan “Arab” memiliki akar kata yang sama. Arab, dari akar kata ereb, dari bahasa Semit yang artinya barat, kegelapan atau ‘descent’. Karya-karya sastra awal dari pengarang-pengarang, seperti Boccaccio (1313-1375- Decameron)  dan Chaucer (1340-1400 –The Canterbury Tales), apalagi karya Dante Divina et Comedia, jelas pengaruh Arabnya.

   Pada abad X, terdapat bukti tentang adanya hubungan antara wisatawan-wisatawan (traveller) Arab dan penduduk Eropa, Vikings, pedagang-pedagang Muslim sudah  sampai Praha, dimana lambang Khalifah Muslim terdapat di mata uang Anglo-Saxon dan pasukan Muslim dari Afrika Utara mencapai kota Poitiers, tidak jauh dari Paris.

   Percampuran antara warga yang berkeyakinan Islam dan yang berkeyakinan Kristen sudah sedemikian rupa, sampai terjadi keadaan tanpa risih untuk melakukan aliansi lintas agama untuk menghadapi lawan bersama yang kadang-kadang identitas keagamaannya sama. Misalnya penguasa sebuah provinsi Muslim yang Muslim beraliansi dengan penguasa Kristen dari provinsi lain untuk menaklukkan Negara Kristen lain atau sebaliknya.

   Ada sekurang-kurangnya 3 kategori aliansi lintas agama di Semenanjung Iberia dalam abad ke X itu, menurut Almond. Ketiga kategori itu adalah:

   Pertama, aliansi yang semata-mata politis sifatnya. Kerjasama ini dijalin karena ada kesempatan. Tidak ada rasa simpati secara kultural atau ideology di antara pemimpin-pemimpinnya atau di antara tentaranya sendiri. Mereka kadang-kadang tidak saling bertemu, tapi masing-masing melakukan pertempuran di wilayah lain, menghadapi musuh yang sama.

   Kedua, aliansi bersahabat. Ada ikatan psikologis. Memang ada kebutuhan politis tapi antara penguasa sudah terjalin rasa persahabatan. Contoh aliansi antara Kaisar  Byzantin Kantakouzenos dan Umur Pasha, seorang pangeran Muslim dari kawasan Turki, Aydin. Kantakouzenous sampai menawarkan putrinya kepada Umur Pasha, tetapi sang Pasha menolak, karena dia merasa Kantakouzenos sudah seperti saudara sendiri.

   Ketiga, aliansi dimana penguasa Muslim dan Kristen memiliki tingkat budaya dan bahasa yang setara. Contoh: orang-orang Arab Sicily yang mempunyai bahasa yang sama dengan warga Italia Kristen tetangganya bekerjasama menghadapi tentara Prancis di Lucera. Demikian pula warga Muslim di Zaragoza yang membantu orang-orang Kristen Castilia dalam abad ke 11 melawan tentara Kristen Aragon. Realpolitik dan terutama kesamaan budaya –bahasa, makanan, pakaian, alam – menjadi sebab dua tentara dari kepercayaan berbeda bertempur di bawah satu bendera.

   Kemudian ada 3 lagi macam kerjasama:

  Pertama, “kerjasama” antara Negara yang ditaklukkan dengan Negara yang menaklukkan. Negara yang ditaklukkan itu disebut “vassal”.  Vassal ini Negara yang kalah perang, yang harus tunduk kepada Negara yang mengalahkan. Kaisar-kaisar Byzantin sering dipaksa membantu penguasa-penguasa Usmani (Ottoman) mengalahkan musuh-musuhnya. Ribuan tentara Serbia dipaksa membantu tentara Turki menaklukkan Constantinopel. Namun kerjasama itu tidak harus merupakan paksaan. Seperti kerjasama antara Alfonso VI dan vassalnya al-Mu’tamid dari Sevilla, dimana seorang pangeran Serbia menyelamatkan putra Sultan Turki dalam Palagan Ankara.

   Kedua, Kerjasama antara “mercenary” dan penguasa yang membayarnya. Inilah yang paling sering terjadi, dimana tentara Kristen bergabung dengan tentara Muslim memerangi musuh penguasa Muslim atau sebaliknya. Janji akan dibayar dengan emas, rampasan perang, tanah dan makanan, merupakan daya tarik yang kuat dari kedua belah pihak. Dalam Perang Salib, ada tentara Muslim yang bergabung dengan Tentara Paus, juga ada tentara Kristen yang ikut dalam gerakan-gerakan Tentara Turki.

  Ketiga, kerjasama dengan kaum tertindas (serf), yaitu petani. Kelompok ini adalah kelompok paling nista, sering dipukuli,dicambuk dan dibiarkan kelaparan oleh “Christian Landlords”, sehingga dengan mudah dimintai bantuan oleh tentara Turki di Hungaria, yang menjanjikan segala kesenangan.

            Yang ingin ditonjolkan buku ini adalah “ bagaimana Muslim selalu terlibat  dalam sejarah Eropa, dari sejak paling awal.”


Penaklukan Muslim atas Spanyol

   Penyerbuan pasukan Muslim terhadap Spanyol adalah atas permintaan  kelompok Kristen. Di semenanjung Iberia, sudah selama 300 tahun hidup sebuah suku bernama Visigoth. Mereka minta bantuan penguasa Bani Umayyah di Damaskus untuk mengalahkan seorang raja saingannya. Dikirimlah seorang jendralnya, Tariq bin Zaid (711).  Selama 20 tahun tentara Muslim berhasil menaklukkan wilayah sampai ke Prancis Barat Laut. Mereka berada di Spanyol sampai tahun 1492.

  Afrika Utara diIslamkan selama 50 tahun, dan penduduknya, suku Berber memeluk Islam sunni yang fanatik. Tentara Berber ini juga ikut menyerbu ke Spanyol. Ketika tentara Berber memberontak di Andalusia (Spanyol oleh orang Islam ketika itu menyebutkannya Al-Andalus atau Andalusia), 1008-1010, Grenada berhasil diduduki. Golongan Arab Andalusia dibantu oleh penguasa Kristen Barcelona, sementara pasukan dari Castile (Kristen) membantu pemberontak Berber. Aliansi lintas agama seperti itu dalam abad ke 11 “were norms, not exception.

  Dalam abad ke XI itulah terlihat Kekhalifahan Islam di Spanyol mulai retak. Kesinambungan penguasa Muslim di Spanyol sejak 756 berlanjut sampai 1013 ketika pengganti khalifah Umayyah di Spanyol, Hisham II hilang (diperkirakan tewas dalam pemberontakan orang-orang Berber yang mengobrak-abrik Granada). Kekhalifahan pecah menjadi taifa (mini-states) yg sudah tentu lemah dan dijadikan mangsa oleh kerajaan-kerajaan Kristen yang telah menanti-nanti saat ini tiba. Antara taifa itu saling berseteru dan mereka tidak segan-segan membayar tentara Kristen untuk membantu mereka menaklukkan taifa lainnya. Pada saat itu terdapat 23 mini states (taifa) (1009 – 1090 – era Taifa). Pada akhir abad XI itu taifa berakhir riwayatnya ketika tentara Berber menaklukkan Andalusia.

   Contoh kerjasama tentara Muslim dan Kristen di Andalusia: Emir of Cordoba Al Hakam I (w 822), penguasa pertama Muslim di Andalusia yang merekrut tentara bayaran Kristen ke dalam Angkatan Bersenjatanya. Al Mansur dalam abad ke X dalam 52 ekspedisi militernya merekrut tentara Kristen dalam jumlah besar. Masuknya tentara Kristen dalam Aangkatan Bersenjata Muslim ini berlangsung sampai abad ke 14 ketika penguasa Muslim harus berhadapan dengan kekuatan Kristen. Paus sampai mengancam akan meng-ekskomunikasi mereka yang perang di pihak Muslim, tapi tidak banyak yang mengindahkan.

   Contoh sebaliknya: Tentara Muslim yang bergabung atau bekerjasama dengan tentara Kristen. Tahun 777, Yusuf dari Zaragoza berusaha membentuk koalisi dengan Charlemagne (Raja Italia, Kaisar Pertama Holy Roman Empire). Tahun 933, Muslim di kota Huesca menolak membantu tentara Muslim dalam pertempuran di Simancas. Tahun 1009 tentara Berber berhasil merangkul Raja Sancho Garcia (Kristen) menggulingkan pemerintahan di Andalusia. Sekitar tahun yang sama penguasa Toledo, Dhu An-Nunids menggalang aliansi dengan Kerajaan Kristen Navarre, dalam perang melawan penguasa Muslim di Zaragosa.

   Begitulah seterusnya dalam buku ini diceritakan saling membantu yang dilakukan oleh sekelompok tentara Kristen dengan penguasa/tentara Muslim dan sebaliknya di Spanyol, Italia, Yunani dan Hungaria.


Kesimpulan Penulis Buku Ini:

1. Sejarah Eropa adalah sejarah tiga agama, Islam, Yahudi dan Kristen, tidak seperti sekarang, seolah-olah Eropa dari permulaan sudah Kristen.


2. Aliansi terjadi karena:

        a. Merasa sama-sama terancam oleh kekuatan yang akan melakukan penyerbuan.
        b. Menghadapi musuh bersama (Kaum Protestan Elizabethan mendorong emirat Afrika Utara untuk mengganggu  Spanyol yang Katholik; Protestan dan Islam sama-sama tidak senang dengan keberhalaan Paus, “Papish Idolatry”).
      c. Keuntungan ekonomi yang akan diperoleh kalau melakukan kerjasama, meskipun dengan kekuatan agama lain. Mercenaries dan petani miskin yang tidak mempedulikan agamanya membantu kekuatan dari agama lain. (Orang-orang Croatia dan Georgia yang Kristen membantu tentara Usmani).
       d. “Ideosyncratic reasons” (Alasan aneh), bukan karena alasan politik, ekonomi atau budaya, tetapi affection, marriages, curiosity, fascination and friendship. Dalam hal friendship ini, bisa disebut persahabatan antara Kantakouzenos dan Umur (Umar?)
         e. Adanya “shared culture, a common language or a set of values”  mengesampingkan agama dalam menghadapi musuh bersama. (Muslim di Kerajaan Zaragoza yang telah lama berdiri di Andalusia, dimanfaatkan oleh penguasa Kristen dari Kerajaan lain untuk menjadi mata-mata di daerah Kristen lain di Spanyol yang akan ditaklukkan).
3. Obsesi publik di Eropa terhadap terorisme, imigrasi dan pencari suaka sekarang ini mengalihkan perhatian orang terhadap bahaya yang sesungguhnya, yaitu – “large-scale takeover of our public structures by a small number of corporate and business elites.” □□□