Sunday, October 21, 2018

Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia




JUDUL BUKU:
Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia
PENULIS:
Prof. Dr. Raghib As-Sirjani
PEMBAWA MATERI/PEMBEDAH BUKU:
A. Faisal Marzuki
PROFIL PEMBEDAH BUKU:
Nama lengkapnya Ahmad Faisal Marzuki, dipanggil bang Faisal, adalah Co Founder IMAAM (Indonesian Muslim Association in America), Anggota / Sekretaris IMAAM Advisory Council, Team Bedah Buku IMAAM.



KATA PENGANTAR

B
edah buku Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia pemaparan aslinya menggunakan bahasa Arab. Judulnya “Madza Qaddamal Muslimun Lil ‘Alam Ishamātu al-Muslimin Fi Al-Hadharah Al-Insaniyah”, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul  seperti tersebut di atas Penulisnya, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, biodata dan profil terlampir.

Selama ini apakah kita “tidur”? Pun kalau bangun dengan wacana pembahasan yang katakan serius, tapi baru berkutat dan melingkar-lingkar dalam masalah “furuiyah”, belum mendasar. Kalaupun mendasar ujung-ujungnya terperangkap ke dalam kubangan pemikiran peradaban yang bukan worldview Islam yang sebenarnya.

Sementara peradaban lain yang pandangan hidupnya sama sekali jauh dari pandangan hidup Islami yang sebenarnya, telah merajalela dan menguasai dunia.

Lantas apa artinya kita, umat yang beriman kepada Allah swt, diciptakan sebagai makhluk yang beribadah kepada-Nya dengan peran sebagai “khalifah-khalifah” pemakmur kehidupannya di dunia [QS Hūd 11:61], dimana dunia adalah ladang ibadah sebagai bekal menuju kehidupan di akhirat. Padahal Islam dan umatnya pernah berjaya dengan “Peradaban”nya yang tinggi, mewarnai kehidupan Dunia, ketika Eropah tidur lelap di abad tengah. Baca juga (klik--->) Sejarah Peradaban Islam di Eropah Abad Tengah.

Buku yang berhalaman 823 tambah 32 halaman yang memuat daftar referensi, disarikan oleh pembedah menjadi 46 halaman yang terdiri dari 13 poin-poin inti yang perlu diketahui oleh peserta bedah buku dalam memahami buku tersebut, yaitu: ● Motivasi Penulisan Buku - kenapa sampai perlu menyusun buku tersebut;  ● Urgensi Penulisan Buku – sebab apa sampai perlunya menulis topik tersebut; ● Makna Peradaban – apa makna ideal dari peradaban itu; ● Makna Praktis Dari Peradaban – penerapan makna ideal peradaban; ● Sebab Lahirnya Peradaban Islam; ● Perkembangan Peradaban Islam; ● Gerakan Penterjemahan Buku – ilmu yang terdapat dalam buku sebagai sumber blue print membangun peradaban; ● Para Tokoh Ilmuan Muslim; ● Para Tokoh Sains dan Teknologi Muslim; ● Angka Arab Barat Menjadi Angka Modern - faktor angka berperan mewujudkan peradaban yang bersifat pisik; ● Islam di Spanyol (711-1492); ● Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Peradaban Eropa (Barat); ● Penutup serta lampiran biodata dan profil Prof. Dr. Raghib Al-Sirjani.

Untuk itu mari kita telusuri kajian Islam melalui pendekatan peradaban yang ada dalam buku yang kita bedah ini, uraian seperti tersebut berikut ini:


MOTIVASI PENULISAN BUKU

D
i antara banyak topik yang selalu menjadi perhatian penulis buku ini adalah adalah menulis buku dengan topik Peradaban Islam. Kenapa demikian? Sebab, siapa yang ingin memahami perjalanan sejarah manusia, niscaya tidak akan dapat mengetahui semuanya itu tanpa mengkaji dan mendalami peradaban yang ada dalam catatan sejarahnya.

Peradaban Islami - sebagai contoh penting - dalam hubungan sejarah peradaban, merupakan penyambung peradaban kuno menuju peradaban modern. Disitu ada sumbangan kaum Muslimin dalam roda perjalanan sejarah kemanusiaan yang begitu banyak dan signifikan. Mustahil bagi kita bisa menggapai apa yang dicapai manusia sekarang untuk dapat maju dibidang kehidupan apapun tanpa mempelajari Peradaban Islam, dengan kekhususannya yang khas, lalu mendalaminya.

Dapat diketengahkan - lebih awal disini - gambaran peradaban yang telah dicapai Islam itu sebagaimana yang disampaikan oleh Carli Fiorina, Chief Executif Officer Hewlett Packard (1999-2005), Hewlett Packard produsen Industri komputer Amerika. Lahir bulan September tahun 1954, majalah Fortune menobatkan beliau sebagai wanita peringkat pertama dari Top-20 yang pemimpin perusahaan. Carli Fiorina mengatakan:

“Para arsitek yang merancang bangunan-bangunan yang mampu melawan gravitasi adalah mereka para matematikawan yang menciptakan aljabar dan algoritma yang dengan itu komputer dan enkripsi data dapat tercipta. Mereka para dokter yang memeriksa tubuh manusia, dan menemukan obat baru untuk menyembuhkan penyakit. Mereka para astronom yang melihat ke langit, memberi nama bintang-bintang, dan membuka jalan bagi perjalanan dan eksplorasi antariksa”, mereka itu adalah para ilmuan dan penemu Muslim pada zaman kejayaan Islam di abad tengah.


URGENSI PENULISAN BUKU

U
rgensi penulisan buku Peradaban Islam ini oleh Prof. Dr. Raghib As-Sirjani - yang diangkat dari banyak referensi yang kompeten, ilmiah, dan di dukung fakta - adalah untuk menolak serangan kasar dan bertubi-tubi yang ditujukan kepada Islam dan kaum Muslimin, buku ini disusun pasca 9/11. Konsekwensi dari peristiwa itu mata dunia tertuju semua kepada Islam dan Umat Muslimin yang giliran selanjutnya mendapat tuduhan yang menyudutkan. Di antara tuduhan dan serangan masif yang digunakan itu adalah menuduh kaum Muslimin tanpa dasar kebenaran, yaitu,  kekerasan dan terorisme merupakan perilaku serta sifat kaum Muslimin, perilakunya jumud (kolot, kaku, statis). Tuduhan ini sangat bertentangan sekali dengan prinsip dan ajaran Islam.

Sementara itu, kebanyakan dari kaum Muslimin yang di hadapan kepada tuduhan-tuduhan ini hanya mengangkat bahu - lidahnya kelu, sama sekali tidak sanggup membantah apa yang dituduhkan itu. Tidak mampu menerangkan dari apa yang dilekatkan kepada dirinya. Semua kebisuan dan ketidak mampuan menjawabnya - boleh sangat jadi - karena ketidaktahuan asal usul dari Islam dan sejarahnya. Padahal pokok-pokok ajaran Islam dalam hubungan dengan manusia dan lingkungan hidup tidak mengajarkan demikian. Ini terbukti dalam sejarah - lihat sejarah Peradaban Islam.

Fenomena ketidaktahuan ini membelengu akal, dengan itu dengan rasa “minder” - tidak percaya diri serta keputus-asaan yang meliputi kebanyakan kaum Muslimin. Semua fakta di segala ruang lingkup kehidupan umat menjadi terpasung pada zaman ini, sudah tidak diragukan lagi. Tambah lagi melihat peta perjalanan dunia Islam yang jatuh ke dalam penjajahan Eropa (Barat) yang berakhir dengan jatuhnya kekhalifahan Turki Utsmani tahun 1924. Keterjajahan ini, mengakibatkan negeri-negeri yang berpenduduk Muslim secara ekonomi dan politik merupakan hal yang memprihatinkan dan menyedihkan. Kondisi keilmuan, peradaban, ekonomi bahkan akhlak, sangat jauh berbeda dan tidak sesuai dengan sifat kaum Muslimin yang semestinya.

Fakta-fakta ini meninggalkan bekas dalam jiwa, yaitu, rasa pesimis yang menyebabkan tidak dapat menerima identitas dirinya dan putus asa yang tidak berkesudahan.

Dalam kondisi seperti ini, kita perlu menengok ajaran Islam, asal-usul, membaca sejarah, dan mengenal sebab-sebab kehebatan serta kegemilangan kita. Kondisi umat sekarang ini tidak akan menjadi baik, kecuali dengan melihat kebaikan dari generasi sebelumnya terutama generasi pertama. Karena itu, kita tidak mempelajari sejarah untuk sekedar memahami peradaban ini dengan teori belaka, atau sekedar dijadikan teori akademis semata, tapi tujuan dasarnya adalah mengembalikan bangunan seperti semula. Yaitu, mengentaskan dari kebingungan, sampai mengembalikan kaum Muslimin menuju jalan yang benar. Untuk itu - sebagaimana juga tujuan kita - mesti mengetahui ruang lingkup dunia dalam sejarah perjalanan kemanusiaan dan keunggulan kita dalam kehidupan manusia - bukan sebagai suatu kebanggaan dan kesombongan - tapi mengembalikan  yang hak kepada ahlinya. Tujuan kita juga adalah berdakwah kepada kebaikan agama yang dibina oleh sebaik-baik umat yang pernah terlahir di muka bumi ini.

Sir George Bernard Shaw (1856-1950), seorang dramawan Irlandia, kritikus dan polemik yang pengaruhnya terhadap teater, budaya dan politik Barat yang berkembang dari tahun 1880 sampai kematiannya, mengatakan:

“Saya senantiasa menghormati agama Muhammad, karena potensi yang dimilikinya. Ini (Islam) adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti kristus, dia harus dipanggil “sang penyelamat kemanusiaan”. Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia. [The Genuine Islam - Islam yang Sebenarnya, Vol. 1, No. 8, 1936]


MAKNA PERADABAN

U
ntuk tidak kehilangan arah dalam pembahasan buku ini, mari kita telusuri dulu apa sebenarnya makna ideal sesungguhnya kata peradaban ini, terutama peradaban yang diperkenalkan oleh Muslimin di abad tengah tersebut.

Peradaban menurut definisi orang-orang terdahulu, hanya melingkupi tempat tinggal. Peradaban menurut mereka adalah kebalikan dari peradaban Badui yang hidup di lembah gurun padang pasir, sebagaimana yang ditunjukkan dari arti kata tersebut oleh Ibnu Manzhur (1232-131) seorang imam ahli bahasa yang lahir di Mesir, dalam suatu pernyataannya: “Peradaban (hadharah) terdiri dari adab (hadhar), sedang hadhirah kelompok selain penghuni lembah (Badui). Setelah itu, makna peradaban berkembang meliputi seluruh kehidupan manusia dari perkembangan produksi, ilmu pengetahuan, keahlian, adanya hukum (undang-undang) yang mengatur kehidupan. Yaitu peradaban yang tidak ada dalam kehidupan masyarakat lembah Badui. Padahal kehidupan akan lebih baik jika adanya peradaban. Pada masyarakat Badui (yang terbelakang) peradaban bukanlah suatu kebutuhan primer dilihat dari inti definisi tersebut.

Ibnu Khaldun (1332-1406) ahli filsafat dan sejarah, penemu ilmu sosiologi (“bapak ahli sosiologi”) kelas dunia, lahir dan besar di Tunisia, mendefinisikan peradaban sebagai kondisi normal suatu masyarakat yang memerlukan kebutuhan pokok berupa adanya “pembangunan dalam suatu masyarakat.”

Sedangkan asal kata peradaban dalam istilah Eropa (Barat) dikembalikan pada sisi yang tampak secara lahiriah. Kata peradaban dalam bahasa Inggris adalah civilization, berasal dari kata Latin “civic” yang berarti kota atau tempat di kota. Menurut mereka peradaban adalah orang-orang yang tinggal di kota. Perkembangan definisi lainnya, yakni meliputi situasi manusia yang terjadi di kota. Jadi antara kata peradaban dan perkotaan (madaniyah) terdapat kesamaan.

Namun, asal kata dari definisi bahasa ini tidaklah digunakan oleh para pemikir dan ahli filsafat secara global. Bahkan terdapat banyak pandangan yang saling menjelaskan satu sama lain, tapi menjurus pada perbedaan dari sudut pandang pemikiran, konsep, akhlak dan akidah.

Diantara para pemikir yang melihat dari diri manusia itu sendiri, yaitu, apa yang diukir manusia dalam tatacara kehidupannya, perilakunya dan interaksi antar sesama, itulah peradaban. Tidak diragukan bahwa pendapat ini merupakan pendapat baik, yaitu menempatkan nilai manusia dan meninggikannya di atas nilai materi. Mereka memperhatikan segi pemikiran dan indra rasa secara bersamaan. Di antara mereka adalah Malik bin Nabi (1905-1973), seorang intelektual Muslim asal Al-Jazair yang hidup di antara kota-kota Paris, Kairo dan Al-Jazair. Ia menulis buku tentang peradaban dan pergerakan Islamiyah. Ia mengatakan: “Peradaban adalah pencarian pemikiran dan ruhani seperti yang tertulis dalam bukunya: “Syuruth An-Nahdhah, halaman 33.

Sayid Quthub (1906-1966), seorang penulis, pemikir, pendakwah, sastrawan serta intelektual Muslim. Penulis buku tafsir Fi Zhilalil Qur’an ini menguatkan definisi yang diberikan Malik bin Nabi, sebagaimana perkataan dalam bukunya Al-Mustaqbal li Hadza Ad-Din, halaman 56: “Peradaban adalah apa yang diberikan manusia berupa bentuk-bentuk gambaran, pemahaman, konsep, nilai kebaikan untuk menuntun manusia.”

Sebelum itu, Alexis Carrel (1873-1944) seorang dokter dan intelektual asal Perancis yang mendapatkan hadiah Nobel bidang kedokteran tahun 1912 mengatakan: “Peradaban adalah pencarian atau pembahasan tentang akal dan ruh, ilmu-ilmu yang dipergunakan untuk mencapai kebahagian manusia, baik secara jiwa maupun akhlak manusia.” sebagaimana tersebut dalam bukunya “Man the Unknown”, halaman 57.

Ungkapaan Gustave Le Bon (1841-1931) seorang Orientalis asal Perancis, pendiri sekolah ilmu jiwa dan sosiologi, penulis buku The Arab Civilization yang menjadi rujukuan di Eropa, mengatakan: “Peradaban adalah kematangan pemikiran dan metode dasar serta keyakinan, mengubah perasaan manusia menuju arah yang lebih baik”, sebagaimana terdapat dalam bukunya “The Spirit of the People”, halaman 17.

Semua defini diatas menjelaskan seputar kepedulian manusia akan esensi dirinya, dan ruang lingkup tabiat pemikiran serta perilakunya.

Diantara para intelektual ada yang mendefinisikan bahwa peradaban adalah nilai yang dipergunakan manusia untuk membantu kehidupannya. Namun, mereka tidak melihat esensi manusia seperti pendapat sebelumnya, tapi melihat apa yang dapat dinilai nanusia dalam masyarakat. Mereka melihat pada sisi lain dalam bentuk menyeluruh di setiap bidang. Mereka ini memperhatikan berbagai situasi menurut perhitungan dari sisi lain, sebagaimana Dr. Husain Mu’nist (1911-1996) seorang dosen sejarah di Universias Kairo. Bidang tulisannya meliputi sejarah, peradaban Arab, Inggris, Perancis dan Spanyol, berpendapat bahwa:

“Peradaban adalah buah atau hasil dari setiap kesungguhan yang dibangun manusia, untuk memperbaiki keadaan kehidupannya, baik kesungguhan itu menuai hasil untuk sampai pada buah dari tujuan tersebut maupun tidak. Baik hasil materi maupun maknawi. Ini dituliskan dalam bukunya: Al-Hadharah, halaman 13. Ia melihat dengan penglihatan universal pada kesungguhan manusia dan nilai-nilainya.

Sedang Will Durrant (1885-1981) seorang sejarawan Amerika terkenal. Karya tulisnya yang popular adalah The Story of Civilization yang terdiri dari 42 jilid dan memuat sejarah awal mulainya peradaban sejak pertumbuhannya hingga kini, mengatakan:

“Peradaban adalah aturan masyarakat yang menentukan manusia atas tambahan nilai peradabannya dengan empat unsur yaitu ekonomi, politik, keyakinan (akidah) yang diciptakan, disusul berbagai ilmu dan keahlian sebagaimana yang ia tuliskan dalam bukunya The Story of Civilization (I/9).

Dari sisi lain, ada yang melihat peradaban dari sisi materi semata. Mereka menetapkan peradaban pada perkara yang berhubungan dengan kemewahan hidup dan memberikan kesenangan pada manusia serta kemudahan. Mereka tidak melihat sisi peradaban yang ada dibalik kedalaman hati manusia. Mereka tidak melihat pada keyakinan pemikiran, tidak pula akhlak dan konsep-konsep. Mereka ini berada dalam dua kelompok pendapat, yaitu, Kelompok Pertama: Mendewakan materi. Mereka pengagum “Ladaniyah” (tidak beragama, ateis) berpaham Komunis, dan Kapitalis semata. Kelompok Kedua: Kalangan materialism. Sebagaimana dijelaskan dalam buku-bukunya, mereka tidak bermaksud meminimalkan peran akhlak (moral), tapi menetapkan peradaban menurut apa yang tampak semata, tak ada kaitannya sama sekali dengan perilaku manusia.

Sebagaimana uraian panjang lebar dari banyak definisi tentang peradaban seperti uraian diatas, menunjukkan bahwa pengertian peradaban bukan sesuatu yang disepakati di antara para pemikir dan intelektual. Difinisi ini dikembalikan kepada kalimat baru yang muncul kemudian. Definisi ini juga membawa makna berbeda-beda bagi setiap pemikir. Hal ini disebabkan karena merujuk pada perbedaan konsep dan ideologi pada setiap lembaga pendidikan pemikiran manusia. Setiap definisi saling bertentangan atau kadang saling melengkapi.

Peradaban menurut penulis buku “Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia” sebagaimana yang ia tuliskan:

Peradaban adalah kekuatan manusia untuk mendirikan hubungan yang seimbang dengan Tuhannya, dengan manusia yang hidup bersama mereka, dengan lingkungan pertumbuhan, dan perkembangan. Mana kala jalinan ini semakin bertambah erat, peradaban itu makin cemerlang dan menakjubkan. Sebaliknya, hubungan itu tidak erat, maka hubungannya menjadi lemah, sehingga manusia menjadi makhluk ciptaan yang patut diwaspadai.

Peradaban itu merupakan hasil interaksi antara manusia dan Tuhannya dari satu sudut, juga interaksi antara sesama manusia dengan segala perbedaan derajat dan sifat mereka dari sudut lainnya, interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Jadi, definisi peradaban terjalin dalam tiga interaksi hubungan tersebut agar menjadi seimbang, yaitu: Manusia, Tuhan, dan alam sekitarnya.

Dari definisi ini dapat dipahami, terdapat sekumpulan peradaban dalam satu sisi, bahkan telah menjadi suatu nilai adab dalam sisi tersebut. Mana kala ada penyimpangan keras, maka akan menyimpang pula sisi peradaban lainnya.

Manusia yang sanggup mengendalikan benda sekitarnya, niscaya mendapat ketenangan, memberikan kepuasan, sehingga menciptakan alat, menemukan peraalatan, mengembangkan temuan, menggunakan temuan itu dengan baik tanpa tanpa harus menodai unsur lingkungan seperti pencemaran dang pengrusakan lingkungan hidup. Itulah manusia yang berperadaban dalam menjalin tiga pihak sebagaimana telah kami sebutkan dalam definisi tentang peradaban.

Dari sisi lain, ada yang berbuat baik kepada anak-anak, orang tua, istri dan tetangga, serta berinteraksi dengan mereka dalam ruang lingkup akhlak yang tinggi dan nilai-nilai luhur. Itulah manusia yang berperadaban dalam ruang lingkup ini. Namun dia dianggap berbuat buruk (tidak berperadaban) jika interaksinya dengan lingkungan sekitarnya seperti  khewan, tanaman, sungai dan tanah serta udara, seperti, menyakiti khewan, merusak pepohonan, mengotori sungai dengan membuang sampah dan limbah berbahaya, merusak tanah akibat penambangan yang tidak semestinya, mengotori udara dengan menebarkan polusi dan merusak lapisan ozon dan seterusnya.

Bahkan, kadang ia beradab dalam salah satu mata rantai, tapi menyimpang di salah satu dari tiga rantai hubungan lainnya. Manusia berbuat baik kepada keluarga, masyarakat, umat, sebagai manusia yang beradab, tapi ia berbuat buruk kepada mayarakat atau bangsa lain. Dia tidak berbuat adil sebagaimana dia berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat bangsanya. Tidak menyampaikan rahmat kasih sayang kepada mereka sebagaimana yang dia perbuat kepada umatnya. Maka, dalam keadaan ini telah menyimpang. Sebesar itu kedzalimannya, sebesar itu penyimpangannya. Sebesar itu pengrusakannya, sebesar itu pula akibatnya.

Manusia yang menciptakan senjata akan menjadi manusia beradab jika senjata itu digunakan untuk membela, menetapkan yang hak dan keadilan, memenuhi hak kemerdekaan dan kebaikan. Namun, jika ia menciptakan senjata untuk berbuat zhalim dan memerangi orang atau bangsa lain tanpa alasan dan komunikasi terlebih dahulu, maka dia manusia yang menyimpang, meskipun ia telah sampai pada nilai-nilai yang begitu tinggi dalam menciptakan temuan dan keahliannya.

Disamping itu mengkonsumsi yang merusak raga dan keselamatan manusia seperti candu, minuman keras. Membudayakan perjudian, prostitusi, riba, kekejian dan kefasikan yang mana hal itu tidaklah mungkin disebut peradaban. Orang yang menyimpang secara culas atau berbuat kezaliman terhadap sesuatu bangsa yang lemah, dan membiarkan kemiskinan merajalela, semuanya itu bukan termasuk peradaban.

Kemudian dilihat dari orang-orang yang menyimpang dari hubungan dengan Tuhan, maka tidaklah mungkin secara nyata orang yang mengingkari Tuhan disebut berperadaban, dengan adanya bukti otentik yang tak terbantahkan atas keberadaan dan kekuasaan serta kekuatan-Nya. Tidak mungkin pula dapat diterima bahwa yang bersujud kepada manusia, batu atau sapi merupakan peradaban. Semua ini, bukan berarti bahwa kami mengingkari mereka sebagai orang yang berperadaban dari sisi kehidupan lain, seperti menciptakan aturan yang bermanfaat, memproduksi peralatan pertanian yang memudahkan orang bekerja, mendirikan sekolah yang tidak memungut bayaran dan sebagainya.

Dengan gambaran contoh-contoh diatas, dapatlah kami katakan - tanpa bermaksud diskriminatif dan fanatik, bahwa Peradaban Islam merupakan satu-satunya peradaban di dunia yang memenuhi keunggulan dalam menjalin tiga interaksi komponen hubungan Tuhan-sesama manusia-alam sekitar. Yaitu, peradaban yang memiliki bentuk gambaran sempurna tentang adanya Sang Pencipta, memahamkan bagaimana melaksanakan sebenar-benarnya beribadah kepadah-Nya. Berinteraksi dengan akhlak yang baik dengan keluarga, tetangga, lingkungan kerja, komunitas, kemudian interaksi yang baik kepada mereka yang ajaran tidak sama dan bertolak belakang dengan yang kita yakini. Bahkan, Islamlah yang mula-mula menetapkan akhlak berperang kepada manusia. Dilarang merusak tanaman dan pohon-pohon, membunuh anak kecil, perempuan dan orang tua. Mereka yang telah menyerah tidak boleh dibunuh. Meskipun kaum Muslimin dalam keadaan berperang, kerasnya pertentangan dengan pihak lain, tapi mereka tetap memelihara kulurusan akhlak, bermuamalah dan berperadaban sebagaimana mereka bersikap terhadap kaum Muslimin.

Selanjutnya Islamlah yang telah memperlihatkan seorang wanita masuk neraka gara-gara seokar kucing peliharaannya tidak diperlakukan dengan baik. [1] Begitu pula diperlihatkan seorang masuk surga gara-gara memberi minum seekor anjing yang sangat kehausan. [2] Dalam satu riwayat lain, seortang fasik yang memberi minum anjing yang hampir mati kehausan mengelilinginya untuk diberi minum. [3] Di sisi lain, peradaban Islam juga memberikan sumbangsih secara langsung dalam kemajuan berbagai bidang ilmu bagi kemajuan peradaban manusia seperti kedokteran, arsitektur, astronomi, kimia, fisika, geografi, matematika, aljabar, algoritma, obat-obatan, dan sebagainya.

Peradaban Islam dengan pola pandang seperti itu, merupakan satu-satunya peradaban yang manakjubkan pada setiap sisi hubungan kehidupan manusia, lingkungan alam dan Sang Mahapenciptanya. Sedangkan peradaban lainnya selalu terdapat kukurangan. Baik dari satu sisi, tapi timpang disisi lainnya, begitu seterusnya. Dari sini, kami dapat memahami firman Allah Ta’ala: “Kalian sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk manusia…” [QS Āli ‘Imrān 3:110]

Dalam tulisan Prof. Dr. Faisal Ismail, M.A., guru besar Universitas Islam Negeri Yogyakarta; Guru Besar Pascasarjana FIAI UII Yogyakarta, dalam tulisan beliau yang bertema: Peradaban Islam di Tengah Pergeseran Peradaban Dunia, menuliskan:

Menurut Toynbee, Schurbart, Berdyaev, dan Sorokin, peradaban baru yang akan muncul bercorak "keagamaan yang ideal" (religiously ideational). Dalam pengamatan Northop, peradaban yang akan datang berbasis "persenyawaan yang selaras antara estetika-teoritika" (integral as harmonius of the aesthetic-theoritic). Atau peradaban yang bertumpu pada "kesukarelaan etika dan rasional" (voluntaristically ethical and rational) sebagaimana diprediksi Albert Schweitzer.

Adapun Fulton Sheen menamakan peradaban yang akan datang itu berorientasi pada "keagamaan dan Ketuhanan yang murni" (purely religious and theistic).


MAKNA PRAKTIS DARI PERADABAN

S
etelah memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka, makna praktis dari peradaban sebagai berikut: 1. Persamaan yang lebih luas dari istilah budaya; 2. Untuk memperlihatkan keunggulan dari kelompok tertentu; 3. Perbaikan pemikiran atau cara pandang, tata krama, atau rasa; 4. Tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya - peradaban global; 5. Upaya manusia untuk memakmurkan bangsa dan kehidupannya; 6. Membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan; 7. Motivasi (atau di motivasi) dari Worldview mereka dalam membangun peradaban.

Faktor dalam sebuah peradaban setidaknya akan dilepaskan dari 4 faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban, yaitu: 1. Adanya sistim Pemerintahan; 2. Adanya sistim Ekonomi; 3. Adanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; 4. Adanya sistim Pandangan Hidup yang integral.

Wujud dari peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, matematika, algoritma, aljabar, biologi, astronomi, optic, kedokteran, kosmologi, teknologi, arsitektur, sosiologi, psikologi, ekonomi dst. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya, artinya tergantung dari kebiasaan dan pandangan hidupnya.

Peradaban timbul dimulai dari suatu ‘komunitas kecil’ dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir peradaban. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakatan dan akhirnya lahirlah suatu Negara, sebagaimana Yatsrib menjadi kota Madinatur Rasul yang kemudian disebut Madinah yang maju karena berperadaban. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu peradaban di antaranya adalah berkembanganya teknologi, kegiatan ekonomi, pendidikan, berakhlakiyah - patuh dengan peraturan dan hukum.


SEBAB LAHIRNYA PERADABAN ISLAM

K
hususnya dalam peradaban Islam lahir oleh pandangan hidup atau worldviewnya.  Hal inilah yang mendorong peradaban Islam lebih maju ketimbang peradaban-peradaban lainnya. Worldview Islam - sebagai salah satu sampel - melahirkan pengembangan ‘komputer mekanikal’ Astrolabe (al-usthurlāb), karena Islam telah menyebar dari jazirah Arab ke Timur Tengah, Asia, Afrika Utara, Eropa, perlu Astrolabe (dan Rubu’ Mujayyab) alat astronomi yang digunakan sebagai penentu waktu shalat, arah kiblat shalat, kompas untuk pelayaran ke seentero daerah Muslim seperti tersebut diatas. Salah satu berhasilnya Christopher Columbus sampai ke benua Amerika adalah dari pelaut Al-Andalus yang turut serta dalam pelayaran para pelaut Spanyol dan Portugal dalam pengembaraannya ‘menemukan’ Benua Amerika. Tugas utama pelaut ini sebagai navigator kapal. Mereka sebelumnya telah terlatih baik sebagai navigator Al-Andalus.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang bertalian dengan astrononi (ilmu falaq) memberi asupan ide kepada kaum muslimin untuk mempelajarinya, maka penggunaan astrolabe yang lebih lebih luas lagi adalah seperti (1) mengetahui zodiak tertentu serta skala peredarannya, (2) mengukur ketinggian matahari, (3) mengetahui posisi planet yang tidak terlihat, 4) mengetahui zenit matahari pada siang hari dan planet-planet pada malam hari, (5) kompas, (6) menentukan Lintang dan Bujur suatu tempat, (7) menentukan ketinggian suatu benda diantara dua tempat yang berbeda, (8) mengetahui posisi bulan pada zodiak tertentu, (9) mengetahui arah Timur dan Barat. Bahkan memberikan nama-nama ribuan bintang seperti antara lain: Aldebaran (Al-Dabaran), Alnitak (Al-Nitaq), Betelguese (Yad al-Jauza’), Furud (Al-Furud). Nama arah benda angkasa dari pengamat seperti Azimuth dan Nadir, dst, berasal dari kosa kata bahasa Arab.

Meskipun dalam paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanen. Prinsip-prinsip itu adalah: 1. Ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa); 2. Keyakinan kepada keesaan Tuhan (tauhid); 3. Supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material; 4. Pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani; 5. Penghormatan terhadap keluarga; 6. Menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintah-Nya.


PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM

R
asulullah Muhammad saw lah peletak dasar pembangunan peradaban Islam. Kesuksesan Beliau saw selaku peletak dasar pembangunan peradaban Islam yang tiada taranya dalam sejarah, dicapai dalam kurun waktu 23 tahun. 13 tahun langkah persiapan pada periode Makkah (Makiyyah) dan 10 tahun periode Madinah (Madaniyah) membangun masyarakat. Periode 23 tahun merupakan rentang waktu kurang dari satu generasi, dimana beliau saw telah berhasil memegang kendali kekuasaan atas bangsa-bangsa yang lebih tua peradabannya saat itu khususnya Romawi, Persia.

Seorang ahli pikir Perancis bernama Dr. Gustave Le Bon (1841-1931) mengatakan:

“Dalam satu abad atau tiga keturunan, tidak ada bangsa-bangsa manusia dapat mengadakan perubahan yang berarti. Bangsa Perancis memerlukan 30 keturunan atau 1000 tahun baru dapat mengadakan suatu masyarakat yang bercelup Perancis. Hal ini terdapat pada seluruh bangsa dan umat, tak terkecuali selain dari umat Islam, sebab Muhammad El-Rasul (maksudnya Muhammad Rasullullah saw) sudah dapat mengadakan suatu masyarakat baru dalam tempo satu keturunan yang tidak dapat ditiru atau diperbuat oleh orang lain”.

Masa kerasulan Muhammad saw pada akhir periode Madinah merupakan puncak (kulminasi) dasar-dasar peletakan peradaban Islam dan dunia, karena disitulah sistim Islam disempurnakan dan ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta antar negara. “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama (dīn)mu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama(dīn)mu.” [QS Al-Māidah 5:3]

 Generasi masa itu merupakan generasi terbaik sebagaimana firman Allah swt: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf (agent of development), dan mencegah dari yang munkar (agent of change), dan beriman kepada Allah”. [QS Āli ‘Imrān 3:110].

Selanjutnya tradisi pembangunan peradaban Islam di lanjutkan pada masa Khulafa Ar-Rasyidun dan setelahnya. Pembangunan yang dilakukan Muawiyah diantaranya mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri. Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Khalifah Abdul Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Keberhasilan Khalifah Abdul Malik diikuti puteranya Al-Walid bin Abdul Malik (705-715) seorang yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan. Dia membangun panti-panti untuk orang cacat. Semua personil yang terlibat dalam kegiatan yang humanis ini digaji oleh negara secara tetap. Dia juga membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.

Pada lapangan perdagangan yakni pada saat peradaban Islam telah menguasai dunia perdagangan sejak permulaan Daulat Umayyah (661-750), dimana pesisir lautan Hindia sampai ke Lembah Sind, sehingga terjalin kesatuan wilayah yang luas dari Timur sampai Barat yang berimplikasi terhadap lancarnya lalu-lintas dagang di dataran antara Tiongkok dengan dunia belahan Barat pegunungan Thian Shan melalui Jalan Sutera (Silk Road) yang terkenal itu, yang kemudian terbuka pula jalur perdagangan melalui Teluk Parsi dan Teluk Aden yang menghubungkannya dengan kota-kota dagang di sepanjang pesisir Benua Eropa, menyebabkan “kebutuhan Eropa pada saat itu amat tergantung pada kegiatan dagang di dalam wilayah Islam”.

Masa sepuluh Khalifah pertama dari Daulat Abbasiyah merupakan masa kejayaan (keemasan) peradaban Islam, dimana Baghdad mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Secara politis, para khalifah betul-betul merupakan tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun begitu, filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

Pada masa sepuluh Khalifah pertama itu, puncak pencapaian kemajuan peradaban Islam terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809). Harun Al-Rasyid adalah figur khalifah shaleh ahli ibadah; senang bershadaqah; sangat mencintai ilmu sekaligus mencintai para ‘ulama; senang dikritik serta sangat merindukan nasihat terutama dari para ulama. Pada masa pemerintahannya dilakukan sebuah gerakan penerjemahan berbagai buku Yunani dengan menggaji para penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lainnya yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, yang salah satu karya besarnya adalah pembangunan Baitul Hikmah, sebagai pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.

Harun Al-Rasyid juga menggunakan kekayaan yang banyak untuk dimanfaatkan bagi keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. 300 pemandian umum yang tersebar di seluruh kota dan di dua puluh satu pinggiran kota lainnya. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat yang tak tertandingi.

Terjadinya perkembangan lembaga pendidikan pada masa Harun Al-Rasyid mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama juga lahir para imam mazhab hukum yang empat hidup Imam Abu Hanifah (700-767); Imam Malik (713-795); Imam Syafi'i (767-820) dan Imam Ahmad bin Hanbal (780-855).


GERAKAN PENTERJEMAHAN BUKU

P
encapaian kemajuan dunia Islam pada bidang ilmu pengetahuan tersebut tidak terlepas dari adanya sikap terbuka dari pemerintahan Islam pada saat itu terhadap berbagai budaya dari bangsa-bangsa sebelumnya seperti Yunani, Persia, India dan yang lainnya. Gerakan penterjemahan buku yang dilakukan sejak Khalifah Al-Mansur (745-775) hingga Harun Al-Rasyid berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi, biologi, fisika dan sejarah.

Menurut Demitri Gutas proses penterjemahan di zaman Abbasiyah didorong oleh motif sosial, politik dan intelektual. Ini berarti bahwa para pihak baik dari unsur masyarakat, elit penguasa, pengusaha dan cendekiawan terlibat dalam proses ini, sehingga dampaknya secara kultural sangat besar.

Gerakan penerjemahan pada zaman itu kemudian diikuti oleh suatu periode kreativitas besar, karena generasi baru para ilmuwan dan ahli pikir muslim yang terpelajar itu kemudian membangun dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya untuk mengkontribusikannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Menurut Marshall, proses pengislaman tradisi-tradisi itu telah berbuat lebih jauh dari sekadar mengintegrasikan dan memperbaiki, hal itu telah menghasilkan energi kreatif yang luar biasa. Menurutnya, periode kekhalifahan dalam sejarah Islam merupakan periode pengembangan di bidang ilmu, pengetahuan dan kebudayaan, dimana pada zaman itu telah melahirkan tokoh-tokoh besar di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi. Berbagai pusat pendidikan tempat menuntut ilmu dengan perpustakaan-perpustakaan besar bermunculan di Cordoba (Kurtuba), Palermo, Nisyapur, Kairo, Baghdad, Damaskus, dan Bukhara, dimana pada saat yang sama telah mengungguli Eropa yang tenggelam dalam kegelapan selama berabad-abad. Kehidupan kebudayaan dan politik baik dari kalangan orang Islam maupun non-muslim pada zaman kekhilafahan dilakukan dalam kerangka Islam dan bahasa Arab, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan agama dan suku yang plural.

Pada saat itu umat Islam telah berhasil melakukan sebuah akselerasi, jauh meninggalkan peradaban yang ada pada saat itu. Hidupnya tradisi keilmuan, tradisi intelektual melalui gerakan penerjemahan yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan penyelidikan yang didukung oleh kuatnya elaborasi dan spirit pencarian, pengembangan ilmu pengetahuan yang berkembang secara pesat, mengakibatkan terjadinya lompatan kemajuan di berbagai bidang keilmuan yang telah melahirkan berbagai karya ilmiah yang luar biasa.

Menurut Oliver Leaman (lahir 1950) professor bidang filsafat di University of Kentucky khususnya Islamic, Jewish dan filsafat Timur, bahwa proses penterjemahan yang dilakukan ilmuwan muslim tidak hanya menterjemahkan karya-karya Yunani secara ansich, tetapi juga mengkaji teks-teks itu, memberi komentar, memodifikasi, mengasimilasikannya dengan ajaran Islam. Proses asimilasi tersebut menurut Thomas Brown terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh. Sains, filsafat dan kedokteran Yunani di adapsi sehingga masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam. Proses ini menggambarkan betapa tingginya tingkat kreativitas ilmuwan Muslim sehingga dari proses tersebut telah melahirkan pemikiran baru yang berbeda sama sekali dari pemikiran Yunani dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani.

Pada masa-masa permulaan perkembangan kekuasaan, Islam telah memberikan kontribusi kepada dunia berupa tiga jenis alat penting yaitu paper (kertas), compass (kompas) dan gunpowder (mesiu). Penemuan alat cetak (moveable types) di Tiongkok pada penghujung abad 8 dan penemuan alat cetak serupa di Barat pada pertengahan abad 15 oleh Johann Gutenberg, menurut buku Historians’ History of the World, akan tidak ada arti dan gunanya jika Bangsa Arab tidak menemukan lebih dahulu cara-cara bagi pembuatan kertas.


PARA TOKOH ILMUAN MUSLIM

P
encapaian prestasi yang gemilang sebagai implikasi dari gerakan terjemahan yang dilakukan pada zaman Daulat Abbasiyah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan muslim yang mashur dan berkaliber internasional seperti: Al-Biruni dalam fisika, kedokteran; Jabir bin Hayyan (Geber) pada ilmu kimia; Al-Khawarizmi (Algorism) pada ilmu matematika dan aljabar; Al-Kindi dalam filsafat; Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji (Alpetragius) dalam astronomi; Abu Ali Al-Hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik; Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern; Ibnu Rusyd (Averroes) pada bidang filsafat; Ibnu Khaldun dalam sejarah dan sosiologi. Mereka telah meletakkan dasar pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Beberapa ilmuwan muslim lainnya pada masa Daulat Abbasiyah yang karyanya diakui dunia diantaranya:

●Al-Razi (guru Ibnu Sina), berkarya dibidang kimia dan kedokteran, menghasilkan 224 judul buku, 140 buku tentang pengobatan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Bukunya yang paling masyhur adalah Al-Hawi Fi ‘Ilm At Tadawi dalam 30 jilid, berisi tentang jenis-jenis penyakit dan upaya penyembuhannya. Buku-bukunya menjadi bahan rujukan serta panduan dokter di seluruh Eropa hingga abad 17. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibnu Sina.

●Al-Battani (Al-Batenius), seorang astronom. Hasil perhitungannya tentang bumi mengelilingi pusat tata surya dalam waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, 24 detik, mendekati akurat. Buku yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij dalam bahasa latinnya disebut De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerumet Motibus, dimana terjemahan tertua dari karya-nya masih ada di Vatikan.

●Al Ya’qubi, seorang ahli geografi, sejarawan dan pengembara. Buku tertua dalam sejarah ilmu geografi berjudul Al Buldan (891), yang diterbitkan kembali oleh Belan-da dengan judul Ibn Waddih qui dicitur al-Ya’qubi historiae.

●Al Buzjani (Abul Wafa). Ia mengembangkan beberapa teori penting di bidang matematika (geometri dan trigonometri).


PARA TOKOH SAINS DAN TEKNOLOGI MUSLIM

A
bū al-Qāsim Khalaf ibn al-‘Abbās az-Zahrāwī (936–1013), dikenal dengan nama Al-Zahrawi. Dalam bahasa Latin dikenal dengan nama Abulcasis - sesuai dengan lidah Eropa, terambil dari nama awalnya, Abū al-Qāsim. Ia adalah seorang dokter Arab Muslim dan ahli bedah, tinggal di Spanyol Al-Andalus. Dia adalah seorang dokter, dan ahli bedah terbesar yang telah muncul dari Dunia Islam di abad pertengahan. Dia digambarkan sebagai “Bapak Ahli Bedah”. Disamping itu kontribusinya yang terbesar juga dalam bentuk obat-obatan, ditulis dalam Kitab al - Tasrif, dalam tiga puluh jilid buku - ensiklopedia yang membahas praktek-praktek medis. Dia lah sebagai pionir dalam sumbangannya dalam bidang prosedur bedah termasuk menciptakan instrumennya. Penemuan instrumen alat-alat operasi ini memiliki dampak yang sangat besar di Dunia Timur dan Barat sampai abad modern, di mana beberapa peralatan penemuannya masih dipakai dalam dunia kedokteran sampai hari ini.

●Al-Idrisi, nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti. Dikalangan orang Eropa (Barat) dikenal dengan nama Dreses. Muhammad al-Idrisi lahir di kota Afrika Utara, di kota semenanjung Ceuta (Sabtah), Maroko tahun 1100. Dia adalah pakar geografi, kartografi, mesirologi, botani Dia seorang pengembara yang tinggal di istana Raja Roger II. Al-Idrisi merupakan keturunan para penguasa Idrisiyyah di Maroko. Ia keturunan dari Hasan bin Ali, putra Ali ra, dan cucu Nabi Muhammad saw. Ia tumbuh dan besar di Ceuta dan menempuh pendidikan di Cordoba, Spanyol Al-Andalus. Dan wafat tahun 1166 di (pulau) Sisilia, sekarang bagian Italia.

Al-Idrisi juga merupakan ahli farmakologi dan seorang dokter. Namun, minatnya yang besar pada matematika dan astronomi menjadikannya sangat ahli di bidang navigasi. Hal ini membawanya menjadi seorang yang sangat pakar di bidang geografi dan pembuatan peta.

●Nama lengkap Al-Jazari (1136-1206) adalah, Abū al-’Iz Ibn Ismā’īl ibn al-Razāz al-Jazarī. Ia dipanggil Al-Jazari. Kata ‘Al-Jazari' yang melekat pada nama lengkapnya itu menunjukkan asalnya. Keluarga Al-Jazari berasal dari Jazirah Ibnu Umar di Diyar Bakr, Turki. Namun, hipotesis lainnya menyebutkan bahwa Al-Jazari terlahir di Al-Jazira, sebuah kawasan yang terletak di sebelah utara Mesopotamia, yakni kawasan di utara Irak dan timur laut Suriah. Tepatnya antara Tigris dan Eufrat.  Ia adalah Ilmuan Enjinering Muslim yang jenius. Juga penemu konsep Robotik Moderen. Oleh Karena itu ia disebut juga sebagai Bapak Robotik.

Pada 1206 ia merampungkan sebuah karya dalam bentuk buku yang berkaitan dengan dunia teknik. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku, Al-Jami’ Bayn al-‘Ilm wa al-Amal al-Nafi’ fi Sina’at al-Hiya (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices) - Ikhtisar dan Panduan Membuat Berbagai Mesin Mekanik. Bukunya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Karyanya ini sangat berbeda dengan karya ilmuwan lainnya, karena dengan piawainya Al-Jazari membeberkan secara detail hal yang terkait dengan mekanika dan merupakan kontribusi yang sangat berharga dalam sejarah teknik, yang menerangkan tentang Mesin Pompa Air Al-Jazari.

 “Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin”, begitulah pendapat Donald Hill seorang ahli teknik asal Inggris yang tertarik dengan sejarah teknologi, atas buku karya ahli teknik Muslim yang ternama, Al-Jazari.

●Al-‘Ijlia, nama lengkapnya Mariam Al-‘Ijliya Al-Asturla-biya. Barasal dari Suriah (Syria). Ia pembuat astrolabe. Dalam perkembangan sejarahnya Astrolabe adalah peralatan yang digunakan untuk memprediksi posisi matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang. Alat mana telah digunakan dan disempurnakan selama zaman keemasan Islam. Selanjutnya digunakan Eropa pada akhir Abad Pertengahan dan Renaissance. Banyak tokoh-tokoh sejarah terkemuka, termasuk penulis Geoffery Chaucer dan kemungkinan astronom kuno Claudius Ptolemy - telah menulis tentang penggunaan astrolabe. Astrolabe terbuat dari beberapa lempengan logam berbentuk piringan - disk yang bermacam-macam sesuai dengan penggunaan yang dimaksud, dan juga grafik bintang untuk mengetahui konstalasi bintang di langit. Al-‘Ijliya secara signifikan terkait dengan desain astrolabe. Meskipun Muhammad Al-Fazari adalah Muslim pertama yang telah membantu membangun astrolabe di dunia Islam pada abad ke-8, Al-‘Ijliya, seorang muslimah, telah menyumbangkan dengan merancang dan mengembangkan instrumen ini.


ANGKA ARAB-BARAT MENJADI ANGKA MODEREN

P
ersoalannya zaman sekarang dimana sains - ilmu pengetahuan sudah berkembang sedemikian rupa, maka bagaimana dengan hitungan ratusan ribu, jutaan, miliaran, triliyunan dst. Bagaimana bilangan berpangkat? Bagaimana bilangan pecahan? Tidak terbayangkan oleh mereka ada bilangan-bilangan berpangkat, bilangan pecahan, dan seterusnya. Dengan itu jelas sekali bahwa Angka Romawi terbatas sekali penggunaannya,  terutama operasi bilangannya di zaman moderen ini. Sama sekali tidak praktis dan tidak mampu mengakomodasi perkembangan teknologi di masa sekarang dan masa depan juga.

Begitu orang Eropa belajar ke Al-Andalus - sebutan orang Moor untuk menyebut Spanyol, melihat kepraktisan dan hemat waktu dan berjangkauan jumlah besar dan mampu mengatasi operasi matematika yang rumit, maka angka Romawi yang biasa mereka pakai, ditinggalkan.

Kepraktisan angka Arab (angka Arab barat) dibanding angka Romawi adalah sebagai berikut:  Untuk menuliskan tahun 1734 misalnya, maka ditulis dulu M (1000). Kemudian ditulis D (500), C (100), C lagi (100) menjadi 700. Kemudian ditulis X (10), X (10), X (10) menjadi 30. Baru setelah itu 4 dengan cara menuliskannya I (1) dan V (5) maksudnya 5 (V) dikurang 1 (I)  menjadi 4. Dapat dilihat disini bahwa cara menulis seperti itu tidak praktis, dan lagi angka hurufnya banyak. Angka Arab hanya memerlukan 4 digit angka, sedangkan angka Romawi (angka Barat) memerlukan 9 digit huruf yaitu MDCCXXX IV.

Deretan angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 di sekolah umum di seluruh dunia mengenal angka ini. Angka tersebut disebut angka modern, karena telah di kenal dunia modern sampai saat ini. Angka-angka tersebut diadopsi oleh matematikawan Muslim dari India-Hindu ketika pemerintahan Muslim mengembangkan wilayahnya sampai India. Dan kemudian konsep angka tersebut dikembangkannya oleh matematikawan Muslim menjadi bentuk  angka seperti diatas, yang tidak lagi persis sama dari angka asli, karena telah diberi pembenaran dari banyaknya sudut yang ada pada angka masing-masing sesuai dengan angka tersebut, seperti angka satu karena mempunyai sudut satu, dan seterusnya sampai angka sembilan mempunyai sudut  sembilan. Sedang angka nol tidak mempunyai sudut. Angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 orang Eropa menyebutnya sebagai Arabic Numerals. Arabic Numerals  - angka Arab barat, atau Angka Moderen ini di gunakan oleh penduduk Muslim bagian barat yaitu mulai dari Libya sampai Marokko.

Angka Arab (angka Arab timur) yang di kenal sekarang ini oleh kebanyakan kaum muslimin adalah seperti berikut ini: ٠, ١, ٢, ٣, ٤, ٥, ٦, ٧, ٨,٩   

Kaum muslimin dan muslimah di seluruh dunia sudah tidak asing lagi melihat deretan angka Arab (angka Arab timur) tersebut. Tentu saja, sebab deretan angka tersebut digunakan untuk penomoran halaman pada lembaran Kitab Suci Al-Qur’an yang umum dikenal ‘sebahagian besar’ negara-negara yang berpenduduk Muslim. Ini pun berasal dari India-Hindu. Sampai saat ini angka Arab (Arab timur) ini di gunakan oleh penduduk Muslim timur tengah, disamping Arabic numerals (angka Arab barat).


ISLAM DI SPANYOL (711-1492)

S
panyol terletak di benua Eropah. Sewaktu Anda melihat budaya Eropa, salah satu hal pertama yang mungkin datang ke pikiran Anda adalah ‘renaissance’ (kelahiran baru Eropa, to be born a new  Europe). Ikhwal dari akar budaya Eropa dapat ditelusuri kembali ke masa kejayaan seni, ilmu pengetahuan, perdagangan dan arsitektur. Tapi apakah Anda tahu bahwa jauh sebelum renaissance ada, budaya dan peradabannya berasal dari tempat ‘keindahan humanistik’ di Al-Andalus – Spanyol Islam Tidak hanya yang bersifat artistik, ilmiah dan komersial, tetapi juga diperlihatkan perilaku akhlak toleransi dalam hubungan sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang luar biasa. Begitu pula dalam imajinasi kesenian dan puisi yang indah sekali. Moor, sebagai orang Spanyol Muslim, adalah warga pen-duduk Spanyol selama hampir 700 tahun. Seperti yang akan Anda lihat, budaya peradaban mereka telah mence-rahkan Eropa. Mereka membawa keluar Eropa dari zaman kegelapan (dark age) dan mengantarkannya ke renaissance Khalifah dari Kerajaan Arab, datang ke Spanyol pada pertengahan abad 7. Ia menjadi Khalifah pertama Al-Andalus, dan memerintah sebagian besar semenanjung Iberia. Ia juga mendirikan Dinasti Umayyah yang memerintah Al-Andalus selama lebih dari tiga ratus tahun.

Pada awalnya, seluruh tanah Eropa dalam keadaan miskin. Tapi dalam dua ratus tahun Al-Andalus (Spanyol Islam) berkuasa telah berubah menjadi benteng kemajuan dalam kebudayaan, perdagangan dan keindahan. Sistem irigasi yang didatangkan dari Suriah dan Jazirah Arab (Saudi Arabia sekarang) berubah yang tadinya Spanyol merupakan dataran kering, menjadi penghasil pertanian yang melimpah ruah. Zaitun dan gandum selalu tumbuh di sana. Namun orang-orang Arab Islam menambahkan dengan buah delima, jeruk, lemon, terong, artichoke, jinten, ketumbar, pisang, almon, ‘pams’, pacar (pewarna, henna), ‘woad’, ‘madder’, kunyit, gula tebu, kapas, beras, buah ara (figs), anggur, persik, aprikot dan nasi.

Pada awal abad kesembilan, Moor Spanyol Islam merupakan ‘permata’ Eropa dengan ibukotanya Cordoba. Dibawah Pemerintahan Abdur Rahman III, sebagai Khalifah Cordoba yang terkenal. Di bawah kepemimpinannya, datang zaman keemasan Al-Andalus. Cordoba, Spanyol Islam merupakan pusat intelektual Eropa ketika itu.

Pada saat itu London merupakan sebuah desa berlumpur. Rumah-rumah berupa gubuk yang kecil. Tidak ada yang bisa dibanggakan. Lampu jalanannya redup-redup. Sementara itu di Cordova, Spanyol Islam ada setengah juta penduduk. Tinggal di rumah-rumah yang baik sebanyak 113 ribu rumah. Ada 700 masjid dan 300 pemandian umum yang tersebar di seluruh kota dan di dua puluh satu pinggiran kota lainnya. Jalan-jalan beraspal dan di terangi lampu yang menyala. Rumah-rumah memiliki balkon marmer, untuk musim panas. Saluran udara panas di bawah lantai mosaik, untuk musim dingin. Mereka menghiasi tamannya dengan air mancur buatan, dengan dihiasi pula di sekitarnya pertamanan yang indah. Kertas sebagai bahan untuk menulis atau menggambar dan lainnya masih belum diketahui di Barat, sementara itu di Spanyol Islam kertas sebagai bahan untuk menulis dan mencetak buku di mana-mana. Ada toko-toko buku dimana-mana dan perpustakaan lebih dari tujuh puluh banyaknya.



Penduduk berpenghasilan tinggi ditengah masyarakat yang sophiscated seperti berperadaban tinggi, toleran terhadap agama-agama dan asal suku bangsa. Sementara itu toleransi tidak pernah terdengar di bagian Eropa lainnya. Tapi di Spanyol Islam Al-Andalus, ribuan orang Yahudi dan Kristen hidup dalam damai dan harmonis bersama ‘tuan’ Muslim mereka. Masyarakat memiliki pengetahuan yang baik disamping pengetahuan agama. Ekonomi kesejahteraan mereka tak tertandingi selama berabad-abad. Kekhalifan mendukung adanya kepemilikan tanah pribadi dan membolehkan orang-orang Yahudi melakukan usaha perbankan. Tidak ada paksaan dalam beragama bagi non Muslim untuk menjadi Muslim. Sebaliknya, warganya yang non Muslim membayar pajak tambahan (sebagai pengganti zakat).

Dalam buku James Burke berjudul Connections, ia menjelaskan bagaimana Muslim Spanyol mengeluarkan bangsa Eropa dari Abad Kegelapan (Dark Ages) menjadi tercerahkan. Jasa pemerintahan Muslim Spanyol Al-Andalus telah begitu banyak untuk membangunkan kebangkitan intelek-tual dan keilmuan bangsa Eropa. Ketika jatuhnya Toledo - salah satu daerah di Spanyol Al-Andalus ke tangan Kristen, pada tahun 1105, di Toledo orang Arab Muslim memiliki perpustakaan besar, buku-bukunya dijarah. Buku-buku mana terdiri dari dari buku-buku karya orang-orang Yunani dan Romawi yang telah diterjemahkan ke bahasa Arab dan buku-buku karya Arab Muslim dalam bidang filsafat, matematika dan lainnya. Kemudian setelah Andalusia di perintah kembali oleh Spanyol, perpustakaan dibuka dengan mengisi kembali buku-buku lama dan buku-buku karya Arab Muslim membuat orang Kristen Eropa terhuyung-huyung setelah membacanya, karena kagum sangat akan nilai isi buku tersebut, yang tadinya tidak disangka seperti itu” - isinya luar biasa.


Kemajuan yang dilakukan dalam pemerintahan Islam Al-Andalus seperti Cordoba di abad tengah adalah: Setengah juta penduduk, tinggal di rumah-rumah yang baik sebanyak 113 ribu rumah. Ada 700 masjid dan 300 pemandian umum yang tersebar di seluruh kota dan di 21  pinggiran kota lainnya. Jalan-jalan beraspalbatu yang diterangi lampu. Rumah-rumah memiliki balkon marmer, untuk musim panas. Saluran udara panas di bawah lantai mosaik, untuk musim dingin. Mereka menghiasi tamannya dengan air mancur buatan. Dihiasi pula di sekitarnya pertamanan yang indah. Kertas sebagai bahan untuk menulis atau membuat buku cukup banyak. Toko-toko buku berada dimana-mana. Perpustakaan lebih dari 70 banyaknya. Penduduk berpenghasilan tinggi di tengah masyarakat yang sophisticated (berperadaban tinggi), toleran terhadap agama-agama dan asal suku bangsa. Sementara itu toleransi tidak pernah terdengar di bagian Eropa lainnya. Tapi di Spanyol Islam Al-Andalus, ribuan orang Yahudi dan Kristen hidup dalam damai dan harmoni bersama ‘tuan’ Muslim mereka. Masyarakat memiliki pengetahuan yang baik disamping pengetahuan agama. Ekonomi atau kesejahteraan mereka tak tertandingi selama berabad-abad. Memang dari worldview Islam mempunyai kekuatan dahsyat berupa double impact yaitu mendapat kebaikan hidup di Dunia dan kebaikan hidup di Akhirat. Di Akhirat mendapat surga karena beriman dan melakukan kebajikan di Dunia.




PENGARUH PERADABAN ISLAM TERHADAP PERADABAN EROPA

K
elanggengan peradaban terlihat dari sumbangan-sumbangan yang diberikannnya kepada sejarah manusia dalam bidang pemikiran, ilmu, dan akhlak yang mulia. Ketika kita telah mengetahui peran dan sumbangan peradaban Islam dalam sejarah kemajuan manusia, maka kita dapat melakukan pencarian dan penelitian terhadap pengaruh-pengaruh tersebut dalam peradaban Eropa yang sampai kepada kita. Karena hasil-hasil peradaban Eropa dipengaruhi oleh peradaban Islam yang telah mendahuluinya. Hal ini tidaklah aneh, karena sejarah Eropa modern merupakan kelanjutan yang alami dari sejarah kegemilangan oeradaban Islam yang antara keduanya tidak ada pemisahnya.

Tentang hubungan peradaban Islam dengan Barat yang Eropa dan Kristen selama abad pertengahan yang saat itu Eropa dalam masa kegelapannya melalui tiga jalur utama yaitu: Andalusia (Spanyol Islam), Sisilia (pulau atau kepulauan yang terletak disebelah selatan semenanjung Itali, dan Perang Salib.

Andalusia merupakan jembatan utama peradaban Islam dan pintu penting untuk proses transfer peradaban Islam ke Eropa. Yaitu, mencakup bidang ilmiah, pemikiran, sosial dan lain sebagainya. Andalusi yang menjadi bagian dari Eropa telah menjadi mimbar peradaban selama 8 abad (711-1492) karena keberadaan Muslimin di sana.

Begitu kaum muslimin menetap di Andalusia mereka memusatkan perhatian di bidang ilmu pengetahuan, sastra dan seni. Mereka melakukan loncatan-loncatan besar dalam segala bidang ilmu. Hal inilah yang menyebabkan bangsa Eropa memiliki sumber pencerahan yang terus menerus sejak akhir abad sebelas hingga kebangkitan Itali pada abad 15.


Gustave Le Bon mengatakan, “Begitu orang-orang Arab (Muslim) berhasil menaklukkan Spanyol, mereka mulai menegakkan risalah peradaban disana. Maka dalam waktu kurang dari 1 abad mereka mampu menghidupkan tanah yang mati, membangun kota-kota yang runtuh, mendirikan bangunan-bangunan megah, dan menjalin hubungan perdagangan yang kuat dengan negara-negara lain. Kemudian mereka memberikan perhatian yang besar untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan sastra, menerjemahkan buku-buku Yunani dan Latin, dan mendirikan universitas-universitas yang menjadi satu-satunya sumber ilmu pengtahuan dan peradan di Eropa dalam waktu yang lama [ The Arab Civilization, Gustave Le Bone, halaman 273].

Politik Islam yang toleran berpengaruh terhadap kejiwaan ahli dzimmah (non Muslim yang berada dibawah kekuasaan negara Islam) dari kelompok Yahudi dan Nasrani. Oleh sebab itulah orang-orang Spanyol mempelajari bahasa Arab dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan mereka mengutamakannya daripada bahasa Latin. Disamping itu banyak orang-orang Yahudi yang belajar kepada guru-guru mereka yang berbangsa Arab.

Sisilia juga merupakan jembatan terpenting peradaban Islam menuju Eropa. Selain Sisilia juga Italia bagian selatan. Kaum Muslimin menaklukkan Panormus ibukota Sisilia tahun 831. Mereka menguasai hingga tahun 1092 yaitu selama lk 260 tahun. Kehidupan di Sisilia telah diwarnai dengan warna Arab-Islam. Selama berada di sini, kaum Muslimin melakukan pembangunan dan menampakkan tanda-tanda adanya peradaban di sana, seperti, masjid, istana, pemandian umum, rumah sakit, pasar dan benteng.

Bermacam-macam industri penting tumbuh di sana seperti industri kertas, sutera, dan pertambangan. Ilmu pengetahuan dan bermacam-macam seni mengalami kemajuan pesat. Para pencari ilmu dari Eropa datang ke sana. Dengan itu, negeri Sisilia berubah menjadi pusat penting di antara pusat-pusat perpindahan warisan Islam ke Barat. Gerakan penerjemahan dari buku-buku Arab ke bahasa Latin juga dilakukan di sana sehingga menyerupai gerakan penerjemahan yang ada di Andalusia.

Perang Salib berlangsung selama lk 2 abad, mulai dari abad 11 (1097) hingga jatuhnya benteng terakhir pasukan Salib di tangan pasukan Mamalik (disebut juga Mamluk) tahun 1291 dalam Perang Salib besar yang terakhir di Tanah Suci (Palestina) pada abad pertengahan. Dimana kubu-kubu pertahanan tentara Salib terakhir yang masih tersisa di sepanjang pesisir Mediterania telah dikalahkan oleh tentara Mamluk yang berpusat di Mesir.

Masa peperangan tersebut merupakan bagian dari titik persinggungan terpenting antara Eropa dan Islam. Walaupun Pasukan Salib datang ke Timur-Islam untuk perang, bukan mencari ilmu, namun mereka terpengaruh dengan kemajuan-kemajuan peradaban kaum Muslimin yang mereka lihat sendiri. Antara lain dari sinilah mulai adanya transfer kemajuan-kemajuan Islam ke Eropa yang pada saat itu masih terbelakang.

Gustave Le Bon mengatakan:

“Hubungan antara Barat dengan Timur selama 2 abad merupakan salah satu factor terpenting atas pertumbuhan peradaban di Eropa. Jika seorang ingin mengtahui pengaruh Timur terhadap Barat, maka harus mengetahui peradaban 2 blok tertsebut. Timur-Islam memiliki peradaban yang maju disebabkan peran bangsa Arab. Adapun Barat tenggelam dalam kebiadaban”. [The Arab Civilization, Gustave Le Bon, halaman 334].



PENUTUP

D
emikianlah bedah buku Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia yang pada abad tengah memerintah Al-Andalus atau disebut juga Andalusia, yang berlokasi di semenanjung Iberia. Semenenjung ini kini diperintah oleh negara Spanyol dan negara Portugal.

Al-Andalus memerintah selama tujuh ratus tahun lebih, sempat membangun peradaban yang canggih ketika itu, mengatasi peradaban negara-negara yang berada di Eropa sebelah utara dan timur. Semenanjung mana terletak di bagian selatan yang disebut Benua Eropa.

Setelah banyak belajar dari Peradaban Islam, kini Peradaban Barat telah sangat maju dan mendunia, dimana pengaruh Barat ke dunia lain sangat besar, berkat ilmu dan teknologinya yang canggih.

Ada baiknya dibaca pula blog ini yang boleh disebut sebagai kelanjutan dari pembahasan topik diatas, yaitu, (klik--->)Membangun Kembali Peradaban Islam. Billahit Taufiq wal-Hidayah. □ AFM.


Catatan Kaki:

[1] Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Telah diadzab seorang perempuan lantaran seekor kucing. Ia tidak memberi makan, minum, tidak membiarkannya untuk makan dari serangga-serangga tanah.” [HR Al-Bukhari]
[2] Dari Abu Hurairah, dari Nabi, bahwa seorang lelaki melihat anjing memakan tanah lantaran kehausan. Lantas lelaki tersebut mengambil sepatunya, lalu memenuhi sepatu tersebut dengan air, lalu meminumkannya kepada anjing. Allah berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga. [HR Al-Bukhari]
[3] Dari Abu Hurairah, dari Nabi bersabda: “Ketika seekor anjing mengelilinginya yang hampir mati diserang kehausan, ketika itu dilihat oleh seorang pelacur dari kalangan bani Israil. Ia melepas sepatunya, dan mengisinya dengan air. Lalu Dia ampuni dosanya lantaran perbuatan tersebut. [HR Al-Bukhari].



LAMPIRAN:

BIODATA DAN PROFIL DR. RAGHIB AL-SIRJANI

Dr. Raghib Al-Sirjani lahir pada tahun 1964, di Provinsi Gharbiyyah, Mesir. Ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Kairo dengan predikat Summa Cumlaude tahun 1988. Kemudian meraih Master di Universitas yang sama tahun 1992.

Disertasi doktoral terkait Operasi Urologi dan Ginjal beliau tulis dibawah bimbingan gabungan antara kedokteran Mesir dan Amerika, dan menyelesaikannya dengan istimewa pada tahun 1998. Untuk Al-Quran, beliau menamatkan hafalannnya pada tahun 1991.

Pada saat ini, ia merupakan seorang asisten profesor uro-surgery di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo. Di Mesir, ia menjadi Ketua Administrator Hadara Centre untuk Studi Ilmu Sejarah di Kairo. Selain itu, ia juga merupakan tokoh sejarawan umat Islam saat ini. Raghib merupakan pemilik dan sekaligus mengetuai Situs Islamstory.com. Situs besar ini ia persembahkan untuk mempelajari sejarah umat Islam masa lalu hingga masa kini. Profesor Raghib telah membuat banyak kitab yang berkisar tentang sejarah umat Islam, dan sampai saat ini jumlahnya mencapai 56 kitab.

Kitab-kitabnya banyak diminati masyarakat Islam di Indonesia. Karya tulisnya yang berjudul Maa dzā Qaddamal Muslimūna lil 'Alam (Apa yang Kaum Muslimin Kontribusikan Kepada Dunia, dalam buku terjemahan bahasa Indonesia berjudul “Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia”) dianugerahi Nobel Mubarak oleh Husni Mubarak, mantan presiden Mesir, pada 26 Ramadhan 1430 Hijriah, atau 16 September 2009. Buku yang terdiri dari dua jilid setebal 862 halaman itu ia persembahkan kepada Kementerian Waqaf Mesir. Salah satu karyanya yang lain, Misteri Salat Subuh, mendapat sambutan positif di Indonesia.

Penelitian beliau yang dalam dan menyeluruh terhadap sejarah keislaman di bangun atas sebuah proyek pemikiran, "Kaifa Nabni Ummah?" - Bagaimana Kita Membangun Umat? Hal ini untuk mewujudkan beberapa tujuan: 1) Menyimpulkan faktor-faktor kebangkitan dan menerapkannya untuk membangun kembali umat Islam. 2) Membangkitkan harapan dalam jiwa setiap umat Islam, mendorong umat untuk menggali ilmu bermanfaat dan bergerak untuk mencapai tujuan. 3) Pemurnian sejarah Islam dan menonjolkan sisi peradabannya.

Selama lebih dari 20 tahun hingga saat ini, Dr. Raghib telah memberikan banyak kontribusi dalam membangun umat Islam, baik melalui dakwah, narasumber dalam berbagai seminar, penulis produktif berupa buku, makalah, dan analisa, dan tampil di beberapa chanel TV Arab terkemuka.

Pada tahun 2007, Pusat Kajian Internasional Mengenal Nabi Sang Penyayang memberikan pernghargaan kepada Dr. Raghib Al-Sirjani sebagai peraih juara pertama yang mempu memperkenalkan nabi sang penyayang secara baik melalui karya-karyanya, khususnya melalui buku berjudul Al-Rahmah fî Hayâti Al-Rasûl. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Inilah Rasul Sang Penyayang".

Dr. Raghib telah menulis banyak buku dan penelitian di bidang sejarah dan pemikiran keislaman, di antaranya:

Sejarah Perang Salib
Antara Sejarah dan Realita (3 jilid)
Sejarah Ilmu Kedokteran dalam Peradaban Islam
Palestina dan Kewajiban Umat Islam
Ilmu dan Membangun Umat
Sejarah Tatar dari Awal hingga Ain Jalut
Anda dan Palestina
Siapa yang Membeli Surga?
Kita Bukan di Zaman Abrahah
Misteri di Balik Shalat Subuh
Bagaimana Anda Menghafal Al-Quran?
Umat yang Tidak Akan Pernah Mati
Jika Kalian Tidak Menolongnya?
Spiritual Reading
Pemuda Peka Zaman
Palestina Tidak Akan Hilang…Bagaimana?
Penyiksaan di Penjara Kebebasan
Ramadan dan Membangun Umat
Haji Tidak Hanya untuk Para Haji
Boikot
Buku Inilah Rasul Sang Penyayang

Dr. Raghib Al-Sirjani telah mempersembahkan ratusan kaset dan CD keislaman, di antara kumpulan kasetnya adalah:
Andalusia, dari Pembebasan hingga Runtuh (12 Bagian)
Palestina Hingga Tidak Menjadi Andalusia Kedua (12 Bagian)
Abu Bakar Al-Shiddiq ra - Seorang Sahabat dan Khalifah (6 Bagian)
Di Bawah Naungan Sejarah Nabi - Periode Makkah dan Madinah (46 Bagian)
Sejarah Tatar - Sejak Awal Hingga Ain Jalut (12 Bagian)
Jadilah Seorang Sahabat (12 Bagian)
Bagaimana Menjadi Orang yang Berilmu? (10 Bagian)

Buku-buku beliau telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa dunia. Untuk buku terjemahan berbahasa Indonesia, banyak diterbitkan oleh PT Aqwam Media Profetika, dengan lisensi langsung dari penulis. Di antara buku-buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti, Kaifa Tuhâfiz ‘Alâ Shalâtil Fajr (Misteri di Balik Shalat Subuh), Qirâah Manhajul Hayâh (Spiritual Reading), Al-Rahmah fî Hayâti Al-Rasûl (Inilah Rasul Sang Penyayang), Risâlah ilâ Syabâbil Ummah (Pemuda Peka Zaman), dan lainnya.

Sebagai seorang dai umat Islam, ia punya kepedulian yang tinggi terhadap kemerdekaan Palestina. Banyak mengikuti seminar, dan banyak berkontribusi dalam pengembangan umat Islam. Profesor Raghib mengisi dua materi tentang Palestina di dua channel TV, Channel Al-Quds dengan materi bersambung Fathu Falasthin (Pembebasan Palestina) tiap hari Jum'at. Di Channel Ar-Risalah di Khatthuzzaman; Qisshah Falasthin (Garis Masa: Pembebasan Palestina) di hari Senin, dan diulang di hari Selasa dan Sabtu.

Hingga saat ini kontribusi segar Dr. Raghib Al-Sirjani untuk dunia Islam masih bisa dinikmati oleh setiap umat Islam di seluruh dunia, khususnya melalui situs www.islamstory.com, TV Al-Risalah, dan TV Al-Quds. □